Arief Zulkifli, Tempo dan Islamphobia

Di mata ormas Islam khususnya Front Pembela Islam (FPI), Majalah Berita Mingguan Tempo disebut Islamphobia.

Apa itu Islamphobia?

Islamofobia adalah istilah kontroversial yang merujuk pada prasangka dan diskriminasi pada Islam dan Muslim. Istilah itu sudah ada sejak tahun 1980-an, tetapi menjadi lebih populer setelah peristiwa serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Tempo di bawah komando Pemimpin Redaksi A Arif Zulkifli (48) selalu “miring” melihat aksi-aksi yang dilakukan umat Islam. Mulai dari aksi 411, 212 (kasus Ahok) hingga aksi 211 beberapa hari lalu tentang pembakaran bendera HTI yang dilakukan oknum Banser NU.

“Tempo di bawah pimpinan Arif Zulkifli memang Islamphobia alias anti umat Islam. Mereka selalu miring melihat kegiatan umat Islam,” kata seorang petinggi FPI.

“Jika ada kagiatan umat Islam yang membela agamanya, Arif dan Tempo selalu menyudutkan kegiatan tersebut. Dan tak ada sedikitpun positifnya kegiatan kami, ” kata petinggi FPI tadi.

Karikatur Rizieq Shihab

Puncak dari Islamphobia Arif dan Tempo adalah saat majalah berita mingguan yang didirikan Goenawan Mohamad itu, memuat karikatur tentang Imam Besar FPI Rizieq Shihab.

“Habib Rizieq yang begitu kami hormati dibuat olok-olok oleh Arif dan Tempo,” kata petinggi FPI.

Akibatnya, arak-arakan disertai lantunan selawat terdengar riuh di Jalan Palmerah, Jakarta. Ratusan orang beratribut Front Pembela Islam (FPI) tiba di kantor Tempo sekitar pukul 14.10 WIB. Mereka langsung membentuk barisan.

“Kami ingin meminta Tempo meminta maaf, kalau tidak kami tak akan pulang dari sini,” pekik orator dari atas mobil komando saat barikade baru dibuat di depan Gedung Tempo, Jumat (16/3/2018).

FPI meminta Tempo meminta maaf atas pembuatan dan pemuatan karikatur yang dianggap menghina imam besarnya, Muhammad Rizieq Shihab. Mereka menganggap Tempo telah melecehkan Rizieq sebagai ulama mereka.

“Musuh kita adalah bajingan-bajingan yang ada di dalam gedung ini. Musuh kita bukan bapak-bapak polisi, musuh kita adalah keparat-keparat yang ada di dalam sana,” kata seorang orator sambil menunjuk ke arah Gedung Tempo.

Kalimat takbir berkali-kali diteriakan massa dan orator saat beraksi. Setengah jam berlalu, beberapa perwakilan FPI diterima oleh pihak Tempo, salah satu Novel Bamukmin yang juga aktif di Presidium Alumni 212.

Kehadiran mereka diterima oleh Pemimpin Redaksi Tempo Arif Zulkifli di ruangan tak jauh dari lobi gedung. Sempat terjadi percekcokan hanya karena pemilihan ruangan.

“Ini sempit sekali (ruangannya) ini penghinaan namanya,” ucapan itu keluar dari salah satu perwakilan FPI.

Polisi berusaha menenangkan hingga akhirnya FPI bersedia masuk ke ruangan untuk berunding. Ruangan itu berdinding kaca. Para jurnalis yang meliput bisa memantau pertemuan itu dari luar.

Setengah jam berlalu, tiba-tiba dari balik ruangan terdengar gebrakan meja.

“Jadi maksud dan tujuan Tempo menggambar karikatur itu apa?” kata salah satu perwakilan dari FPI dengan nada meninggi.

Sontak sejumlah orang di sekitar ruang mediasi itu kaget dan berusaha memantau. Terdengar berkali-kali Arif menjelaskan bahwa karikatur memiliki interpretasi yang berbeda-beda pada setiap orang.

Lagi-lagi salah satu perwakilan FPI emosi. Seorang dari mereka terlihat melemparkan gelas air mineral ke arah awak media Tempo. Saat itu Arief yang sedang minum pun terlihat kaget.

“Sudah. Tenang, Pak, tenang,” ujar seseorang yang mengikuti mediasi itu.

Berkali-kali sempat terdengar dari luar nada suara yang meninggi, namun pada akhirnya perwakilan FPI dan Arif keluar bergandengan. Sekitar satu setengah jam pertemuan itu berlangsung.

Arif diboyong ke arah mobil komando untuk berbicara. Saat itu, Tempo kembali dituntut minta maaf. Namun, pernyataan Arief sempat membuat emosi massa meluap lantaran dianggap tak meminta maaf.

Sampai akhirnya seorang perwakilan FPI menyentuh tubuh Arif. Salah satu dari mereka merampas kacamata Arif dan melemparkannya ke arah massa.

Sempat terjadi kericuhan. Kacamata Arif kembali dilempar ke atas mobil komando. Sebuah gelas kemasan air mineral pun kembali melayang ke arah Arif.

“Kacamata saya tadi sempat dirampas dan dilempar. Untung enggak pecah,” kata Arief sambil tertawa saat bercerita kepada wartawan di Gedung Tempo.

Arif meminta maaf bukan karena Tempo telah membuat karikatur yang dipersoalkan FPI. Namun, dia meminta maaf jika karikatur itu telah menyinggung pihak tertentu.

“Kerja jurnalistik menyimpan dhoif-nya. Kalau kartun majalah Tempo menimbulkan ketersinggungan kami meminta maaf,” kata Arif dari atas mobil komando aksi.

Tempo pun memberi ruang hak jawab bagi FPI yang akan diterbitkan pada pekan depan. Namun persoalan ini seharusnya dibawa ke Dewan Pers sebagai ruang mediasi pihak yang merasa dirugikan atas produk jurnalistik Tempo.

“Untuk memutuskan bersalah atau tidak itu domainnya Dewan Pers,” katanya.

Sebuah gelas air kemasan kembali melayang ke arah mobil yang dinaiki Arif. Lagi-lagi keadaan menjadi ricuh dan Arif memutuskan untuk turun dari mobil komando.

FPI melakukan aksi protes lantaran ada karikatur yang menggambarkan sosok orang memakai gamis dan serban. Sosok tersebut berbicara kepada seorang perempuan yang menirukan skenario salah satu adegan film.

“Maaf saya tidak jadi pulang,” ujar pria berserban.

“Yang kamu lakukan itu jahat,” jawab perempuan memakai baju merah.

Islamphobia

Arif Zulkifli diketahui memiliki mobil Toyota Kijang Innova tipe 2.0 G A/T tahun 2016 warna hitam metalik dengan alamat di BPKB di Jl Turi Raya no 225 Kel Bakti Jaya Kec. Sukmajaya Depok namun ybs tidak tinggal di alamat tersebut. Kemungkinan rumah tersebut adalah alamat orang tuanya.

Menurut kawan-kawanya, alumnus jurusan Komunikasi Universitas Indonesia memany seorang liberalisme dan dekat dengan kelompok kiri.

Sejak jadi reporter di Pusat Data dan Analisis Tempo (1993) Arif memang banyak bergaul dengan aktivis mahasiswa yang tergabung dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD).

“Arif seorang yang berpikiran Marxisme. Tapi lebih dekat ke Sosial Demokrat (Sosdem). Kelompok Sosdem ini memang tidak pernah suka dengan Islam politik apalagi Islam yang ingin mendirikan khilafah seperti HTI dan FPI,” kata seorang sahabat Arif.

Mengawali karirnya sebagai Reporter Media Indonesia (1994), Reporter Tempo (1998), Redaktur Pelaksana Desk Nasional Tempo (2004-2010), Redaktur Eksekutif Majalah Tempo (2010-2013) dan
Pemimpin Redaksi Majalah Berita Mingguan Tempo (2013)

Arif yang pernah meraih penghargaan Elizabeth O’Neil Journalism Award (2010)
dan konvensi PBB tentang peran jurnalisme investigasi dalam pemberantasan korupsi di Wina, Austria, 2013, memang banyak bergaul dengan kelompok Sosdem internasional.

“Arif itu agen Sosdem di Indonesia. Dan secara politik Sosdem memang tidak pernah sejalan dengan politik Islam apalagi ide khilafah,” kata aktivis tadi.

Namun aktivis tadi menolak jika Arif ada hubungan dengan simpul-simpul PKI (Partai Komunis Indonesia). Dia hanya berpikiran Marxisme. Namun gaya hidupnya liberalisme. Biasalah. Kiri baru,” kata aktivis tadi.

Arif Zulkifli adalah Pemimpin Redaksi Majalah Berita Mingguan Tempo. Ia menggantikan posisi Wahyu Muryadi. Sebelumnya Arif menjabat sebagai Redaktur Eksekutif Majalah Tempo.

Ketika Tempo diberedel pada 1994, Arif hijrah dan menjadi reporter di Media Indonesia. Setelah kemudian diperbolehkan beroperasi, pada tahun 1998 Arif kembali lagi ke Tempo. Enam tahun kemudian, dia menjadi Redaktur Pelaksana Desk Nasional Tempo dan menjadi Redaktur Eksekutif pada tahun 2010.

Oleh : Dedy Warsito
Cibinong, Bogor

banner 468x60

Subscribe

No Responses

Leave a Reply