Calon Jaksa Agung Prabowo, Novel Sikat Pendukung Jokowi

JAKARTA – Begitu banyak pimpinan partai politik pendukung Jokowi Capres 01 “disikat” KPK. Sebutlah Setya Novanto, Idrus Marham, Romahurmuziy. Belum lagi kepala daerah. Ternyata ini adalah ulah penyidik senior KPK Novel Baswedan.

KPK menangkap anggota DPR dari fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso dalam rangkaian operasi tangkap tangan (OTT) terkait distribusi pupuk. Golkar pun enggan berspekulasi atas tertangkapnya Bowo.

“Novel kan calon Jaksa Agung Prabowo Subianto dan dealnya memang harus menyikat pendukung Capres 01 yakni Jokowi. Ini politik Bung,” kata pengamat politik Bonny Hargens.

KPK menangkap anggota DPR dari fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso dalam rangkaian operasi tangkap tangan (OTT) terkait distribusi pupuk. Golkar pun enggan berspekulasi atas tertangkapnya Bowo.

“Kami menunggu penjelasan resmi dari KPK terkait dugaan OTT itu. Kami tidak mau berspekulasi terlalu jauh terkait peristiwa OTT KPK, dalam kasus apa dan bagaimana peristiwanya,” ujar Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily kepada wartawan, Kamis (28/3/2019).

Ace mengatakan, pihaknya saat ini tengah menunggu keterangan resmi dari KPK. Namun, dia menegaskan, Golkar akan bersikap tegas terhadap kader yang terjerat kasus korupsi.

“Kita tunggu keterangan resmi dari KPK. Yang jelas kami akan bersikap tegas bagi siapa pun kader yang melakukan korupsi,” katanya.

Ternyata ini adalah kerja keras Novel Baswedan dan Bambang Widjojanto yang punya pengaruh kuat di KPK. Di balik Novel ada nama Tommy Soeharto Ketua Umum Partai Berkarya yang juga bos Humpuss.
Tommy ingin menghancurkan Golkar.

” Dealnya ya itu. Novel atau Bambang jadi Jaksa Agung Prabowo Subianto Capres 02. Novel juga ada akses ke Tommy Soeharto,” kata seorang sumber di KPK.

Sumber ini menyebutkan pengaruh Novel di KPK mengalahkan Agus Rahardjo Ketua KPK. ” OTT itu kan disetting Novel dkk dan dibantu Bambang Widjojanto,” kata sumber.

Bukan hanya Rommy, tertangkapnya Bupati Pakpak Bharat, Remigo Yolanda Berutu menambah daftar panjang kepala daerah yang diduga terlibat kasus suap. Padahal, Presiden Joko Widodo (Jokowi) selalu mewanti-wanti agar para kepala daerah di Tanah Air tidak menerima suap dan korupsi.

Mengenai sejumlah kepala daerah yang telah mendeklarasikan dukungannya kepada Jokowi di Pilpres 2019 justru terjerat kasus suap dan korupsi, menurut Johan itu persoalan lain.

Dia menegaskan tidak ada hubungan antara pilihan politik di Pilpres dengan tindak pidana korupsi. Siapa pun yang melakukan korupsi harus ditindak sesuai aturan yang berlaku.

“Harus bedakan pilihan politik dan penegakan hukum. Ini ada di domain penegakan hukum. Ada orang yang pilihan politik berbanding masing-masing. Enggak ada hubungannya menurut saya,” kata dia.

Perlu diketahui, Remigo Yolando Berutu telah mendeklarasikan dukungan kepada Jokowi di Pilpres 2019. Baru-baru ini, dia ditangkap KPK terkait proyek dinas PU di Pakpak Bharat.

Selain Remigo Yolando, Bupati Bekasi Neneng Hasannah Yasin, Wali Kota Pasuruan yang juga kader PDI P Setiyono, Bupati Malang yang juga kader NasDem Rendra Kresna juga sudah tertangkap oleh OTT KPK. Mereka diketahui telah mendeklarasikan dukungan juga kepada Jokowi.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyangka Bupati Cianjur, Irvan Rivano Muchtar bersama beberapa pihak memangkas sebagian Dana Alokasi Khusus (DAK) Pendidikan Kabupaten Cianjur untuk kepentingan pribadi Irvan. Berasal dari Partai Nasdem, kepala daerah ini pendukung pasangan inkumben Jokowi – Ma’ruf Amin di Pilpres 2019.

Irvan bukan Kepala Daerah pendukung Jokowi pertama yang dinyatakan sebagai tersangka oleh KPK. Berikut daftar Kepalada Daerah pendukung Jokowi yang terjerat kasus korupsi.

Bupati Malang Rendra Kresna.
Rendra dijadikan tersangka pada Selasa 9 Oktober 2018, setelah sehari sebelumnya KPK menggeledah kantor Rendra secara paksa. Rendra diduga menerima gratifikasi atau hadiah dari pelaksana proyek atau kontraktor. Kasus ini ditangani KPK sejak satu tahun lalu.

Neneng dinonaktifkan dari Partai Golkar dan dipecat dari tim sukses Jokowi – Ma’ruf. Juru bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi – Ma’ruf, Ace Hasan Shadzily, mengatakan sudah berkomunikasi dengan Ketua Tim Kampanye Daerah Jawa Barat Dedi Mulyadi terkait dengan posisi Neneng Hasanah di tim kampanye daerah. “Yang bersangkutan juga akan diberhentikan dalam Tim Pemenangan,” ujar Ace kepada Tempo pada Selasa, 16 Oktober 2018.

Bupati Pakpak Bharat Remigo Yolanda Berutu. Remigo Yolanda Berutu tersangka penerima suap Rp 550 juta sehubungan dengan proyek infrastruktur sejak 18 November. KPK menyangka uang itu untuk kepentingan pribadi Remigo.

Menurut Juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo – Sandiaga, Andre Rosiade, Remigo adalah kader Partai Demokrat yang mengalihkan dukungan pada Jokowi.

Pada 5 Oktober KPK menetapkan Wali Kota Pasuruan, Setiyono sebagai tersangka penerima suap proyek pembangunan Pusat Layanan Usaha Terpadu-Koperasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (PLUT-KUMKM) Kota Pasuruan. Kader Golkar ini disangka menerima duit Rp 135 juta dari perwakilan CV. M, Muhamad Baqir, penggarap proyek itu.

Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar
KPK menetapkan Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar sebagai tersangka korupsi Dana Alokasi Khusus Pendidikan Kabupaten Cianjur. Irvan dan sejumlah pihak disangka meminta, menerima, dan memotong pembayaran DAK pendidikan Cianjur tahun 2018 sebesar 14,5 persen dari total Rp 46,8 miliar. Dari jumlah itu, jatah Irvan 7 persen.

Gerakan Politik Novel

Beginilah jika lembaga antikorupsi sebesar KPK “disusupi” kepentingan politik. Dan otak dari semua ini adalah Novel Baswedan, sepupu Anies Baswedan Gubernur DKI Jakarta yang tak lain adalah pendukung utama Capres Prabowo Subianto. ***

banner 468x60

Subscribe

No Responses

Leave a Reply