Raja Tega, Prabowo Khianati Habib Rizieq, SBY dan PKS

JAKARTA – Raja Tega. Itulah kalimat yang paling pas dialamatkan kedua dua kakak beradik ; Prabowo Subianto dan Hashim Joyohadikusmo.

Saat mengumumkan calon kabinetnya tadi sore di Surabaya yang disiarkan langsung tvOne, nama Agus Harimurti Yudhoyono, Habib Rizieq Shihab dan Sohibul Iman tidak masuk dalam calon menteri Prabowo.

Padahal ketiga tokoh ini punya massa yang besar. Siapa yang meragukan ketokohan Habib Rizieq Shihab sebagai Imam Besar Front Pembela Islam (FPI)?

Jangan pula meragukan kapasitas Agus Harimurti Yudhoyono sebagai tokoh kunci Partai Demokrat pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono. Agus adalah calon Wapres yang dikihianati Prabowo.

Begitu juga Sohibul Iman sebagai Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang begitu mati-matian membela Prabowo Subianto dengan kekuatan jaringan Islam perkotaan nya yang tidak bisa dianggap enteng.

Begitulah. Ternyata dalang Koalisi Adil Makmur ini bukan Prabowo tapi adiknya Hashim Djojohadikusumo tokoh Nasrani yang memang dikenal sebagai Islamphobia.

Sinyal keretakan antara Prabowo dengan SBY, antara Gerindra dengan Demokrat nampaknya semakin terlihat nyata.

Sejak awal Demokrat memang sudah terlihat setengah hati mendukung Prabowo. Namun baik dari SBY maupun Prabowo kerap meyakinkan publik bahwa mereka baik-baik saja. Intinya Demokrat tetap mendukung Prabowo.

AHY sebagai pengganti SBY pun sempat bermesraan dengan kubu Prabowo, AHY bahkan sempat dijanjikan bakal menjadi menteri jik Prabowo menang. Hal itu disampaikan Prabowo saat berkampanye di Bandung. Iming-iming Prabowo ini mungkin agar AHY dan Demokrat tetap solid mendukung Prabowo.

Namun entah mengapa, setelah dijanjikan bakal jadi menteri Prabowo, nama AHY justru tak masuk daftar calon menteri Prabowo yang baru saja dirilis. Padahal, AHY adalah putra mahkota partai Demokrat yang sangat layak mendapat jatah menteri dari Prabowo.

Mengapa Prabowo justru lebih memilih nama-nama yang cukup asing? Nama-nama seperti Rocky Gerung dan Natalius Piagi justru masuk daftar calon menteri Prabowo. Apa yang membuat Prabowo tak memasukkan nama AHY?

Jika kita lihat ke belakang, SBY memang sempat kecewa dengan gaya berkampanye Prabowo di GBK yang terkesan eksklusif. SBY tidak suka dengan gaya kampanye yang menonjolkan politik identitas. SBY ingin Prabowo kampanye yang inklusif sebagai seorang nasionalis, bukan sebagai sosok yang begitu memihak kepada kelompok muslim seperti FPI dan GNPF-Ulama. Setahu SBY, Prabowo adalah seorang nasionalis.

SBY secara terang-terangan merasa amat kecewa dengan gaya kampanye Prabowo. AHY yang sempat dikabarkan akan hadir di kampanye Prabowo pun akhirnya memilih tidak datang. Mungkin akhirnya SBY tidak mengizinkan AHY datang.

Sejak SBY mengungkapkan kekecewaannya kepada Prabowo, nama AHY memang sudah tidak lagi disebut oleh Prabowo. Kubu Prabowo seolah-olah telah melupakan Demokrat dan AHY. Padahal, sebelum itu Prabowo cukup sering menyebut nama AHY, bahkan menjanjikan jatah menteri.

Prabowo mungkin merasa tidak nyaman dengan protes SBY. Bagi Prabowo, mau pakai gaya kampanye apapun, yang terpenting bisa mengumpulkan massa sebanyak mungkin. Terbukti meskipun memakai gaya kampanye yang katanya eksklusif, Prabowo mampu mendatangkan massa yang cukup besar.

Kekecewaan Prabowo atas protes SBY memang bisa dimaklumi. Prabowo yang sedang membangun imaje positif, religius, kampanye dengan diawali shalat shubuh berjama’ah, malah dituding eksklusif.

Prabowo mungkin tak perlu khawatir dengan pendukung yang berasal dari kelompok islam, namun yang dikhawatirkan adalah kelompok nasionalis. Mereka mungkin percaya dengan apa yang dikatakan oleh SBY bahwa Prabowo sudah eksklusif, tidak inklusif. Mereka mungkin bisa meninggalkan Prabowo dan akhirnya memilih Jokowi yang lebih inklusif.

Tidak dimasukkannya nama AHY ke dalam daftar calon menteri mungkin semacam ‘warning’ dari Prabowo untuk SBY agar tidak banyak cakap lagi, apalagi memprotes gaya kampaye Prabowo.

Jika SBY masih macam-macam, AHY tak akan dapat jatah menteri. Prabowo seperti sudah terlalu percaya diri melihat massa yang hadir di GBK cukup banyak sehingga merasa tak butuh lagi kepada Demokrat.

Namun bisa juga itu tidak sekedar warning, namun kode bahwa Prabowo memang sudah tidak mau melibatkan kubu SBY lagi. Prabowo sudah cukup kecewa karena dengan Demokrat yang mungkin hanya merugikan kubunya saja. Hanya Demokrat yang terang-terangan mengizinkan kadernya mendukung Jokowi dengan alasan untuk memenangkan Pileg.

Kader-kader Demokrat juga kerap melakukan blunder yang membuat kubu Prabowo dipermalukan. Kita semua belum lupa saat Andi Arief terciduk sedang nyabu. Ini menjadi pukulan telak bagi kubu Prabowo.

Yang terkini, Ferdinand Hutahean juga bikin malu dengan tersebarnya video sexnya dengan seorang perempuan. Beberapa foto Ferdinand yang hanya memakai sempak merah juga semakin mempermalukan kubu Prabowo.

Prabowo terlihat lebih mengandalkan PKS dan PAN yang benar-benar militan mengampanyekan Prabowo. Berkas PKS dan PAN, Prabowo bisa menggelar kampanye dengan dihadiri oleh massa yang jumlahnya besar.

Massa yang hadir adalah kelompok Islam. Jika tak ada PKS dan PAN, Prabowo tak akan mampu mengumpulkan massa dari kelompok Islam sebanyak itu.

Saya kira SBY harus segera bersikap. Prabowo sudah memberikan warning dengan tidak memasukkan nama AHY dalam daftar calon menteri Prabowo. Masih ada waktu untuk putar haluan. Barangkali jika mau mendukung Jokowi, AHY akan dapat jatah menteri

Prabowo belum resmi menang di Pilpres 2019. Namun meskipun begitu, dia sudah menyiapkan nama-nama yang layak menjadi menteri di kabinetnya. Dia merasa perlu menyiapkan hal ini agar orang-orang yang selama ini bahu membahu membantu dirinya menjadi semakin militan dan bersemangat. Dia merasa yakin dirinya akan menang sehingga dengan PD-nya sudah menyiapkan nama-nama yang bakal jadi menteri.

Nama-nama yang disiapkan oleh Prabowo mayoritas adalah orang-orang yang selama ini begitu militan mendukungnya. Prabowo mengumumkan sejumlah nama yang akan membantunya di pemerintahan jika memenangi Pilpres 2019.

Pengumuman ini disampaikan Prabowo dalam pidato kebangsaan di Dyandra Convention Center,Surabaya, Jawa Timur. Prabowo mengaku dalam memilih menteri, dia tak pernah mengecek dari partai mana, ada yang profesional, ada yang bisa pakai dasi, ada yang nggak bisa pakai dasi, ada juga anak-anak muda.

Diantara nama-nama yang menjadi calon menteri memang sudah tidak asing lagi seperti Fahri Hamzah dan Fadli Zon. Dua nama ini bisa dipastikan akan menjadi menteri jika Prabowo menang. Keduanya politisi. Sangat berambisi untuk menjadi menteri.

Yang cukup mengejutkan adalah terdapat nama Rocky Gerung dan Natalius Pigai. Entah apa alasan Prabowo sehingga nama Rocky Gerung dan Natalius Pigai bisa masuk. Padahal, pendukung Prabowo adalah kelompok yang merasa paling Islami. Apa mereka tidak marah jika non muslim seperti Rocky dan Natalius menjadi menteri?

Nama-nama yang selama ini kerap membungkus dirinya sebagai sosok yang religius juga masuk, seperti Yusuf Martak, ketua GNPF-MUI. Jubir BPN, Danhil A Simanjuntak sudah pasti masuk. Yang cukup mengejutkan, nama Neno Warisman dan Mardani Ali tidak masuk. Padahal, keduanya sangat militan mengampanyekan Prabowo. Nama Nanik S Deyang justru masuk.

Padahal, dia tidak semilitan Neno. Ahmad Dhani juga tak masuk. Alasannya mungkin karena sedang terjerat kasus.

Dari semua nama-nama yang dicalonkan Prabowo, yang paling mengejutkan adalah tidak masuknya nama Rizieq dalam daftar calon menteri Prabowo. Siapa yang nanti akan mengisi pos menteri agama? Apakah Rocky yang nanti akan menjadi menteri agama?

Iman Besar FPI

Bagiku ini pelecehan. Rizieq sudah memberikan kontribusi yang makksimal untuk Prabowo sejak Pilkada DKI 2017. Rizieq bahkan sampai harus kabur ke Arab tak berani lagi pulang ke Indonesia.

Rizieq sudah mengerahkan massa FPI dan simpatisannya untuk mendukung Prabowo. Rizieq sudah berhasil mengerahkan massa sehingga terselenggara aksi 411, 212, reuni 212, hingga yang terkini kampanye di GBK. Tanpa Rizieq, massa yang hadir mungkin tidak sebanyak itu.

FPI tak boleh diam saja. FPI harus protes. Selama ini FPI sudah melakukan banyak hal. FPI tidak boleh membiarkan imam besarnya tidak dapat jatah apa-apa. Tidak sedikit massa yang datang di kampanye Prabowo yang merupakan pendukung Rizieq.

Sebagian dari mereka sangat ingin mendengarkan tausiyah Rizieq meskipun hanya lewat video. Prabowo seharusnya paham hal itu.

Selama ini Rizieq sudah dimanfaatkan begitu maksimal. Rizieq dijadikan sebagai pengendors Prabowo agar kelompok muslim mau memilihnya. Rizieq bahkan harus membohongi dirinya sendiri sehingga tetap mau mendukung Prabowo meskipun dirinya meragukan keislaman Prabowo.

Rizieq memang diiming-imingi akan dijemput Prabowo jika menang. Namun itu sangat tidak sebanding dengan jasa Rizieq. Rizieq harus dapat jatah menteri. Ada pos menteri yang sangat cocok dengan Rizieq, yaitu menteri agama. Sudah lama Rizieq mendambakan posisi itu agar bia mensyari’ahkan Indonesia.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Mengapa saat Rizieq belum selesai pidato di kampannye Prabowo, Prabowo justru malah meninggalkan panggung? Apa ini kode kalau Prabowo sudah tidak menginginkan Rizieq lagi sehingga tak dimasukkan ke dalam daftar calon menteri-menteri Prabowo?

Sungguh terlalu. Prabowo bahkan memasukkan nama-nama baru dan asing, yang kontribusinya tidak sebesar Rizieq. Ternyata selama ini Prabowo tidak benar-benar menginginkan Rizieq. Prabowo hanya butuh jasa Rizieq sebagai pengendors, tidak lebih.

Prabowo mungkin merasa telah memberikan imbalan yang setimpal ke Rizieq sehingga tak perlu memasukkannya ke dalam daftar menteri.

Prabowo mungkin ingin bebas jika sudah jadi presiden. Dia sudah lelah diframing sebagai orang yang paham agama. Dia ingin menjadi dirinya sendiri.

Jika dia sudah jadi presiden, dia sudah tidak butuh orang-orang macam Rizieq. Dia sudah tidak butuh lagi framing orang yang mengerti agama.

Semoga FPI segera sadar bahwa imam besarnya hanya dimanfaatkan. Pencoblosan belum terjadi. Sebelum terlambat, alangkah baiknya jika FPI mempertimbangkan lagi untuk mendukung Prabowo

Kapal Oleng Jenderal

Beberapa waktu yang lalu, Ketua Umum Partai Demokrat yang juga mantan presiden RI ke-6, SBY menulis surat untuk tiga elit partainya, yakni Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat Amir Syamsudin, Waketum Partai Demokrat Syarief Hasan, dan Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan.

Surat tersebut bertanggal 6 April 2019, ditulis di National University Hospital, Singapura. Yang juga tempat ibu Ani Yudhoyono dirawat karena didiagnosa menderita kanker darah.

Dalam suratnya, SBY mengaku, mendapatkan informasi bahwa tampilan kampanye akbar Prabowo-Sandi beberapa waktu yang lalu, (07/04) tidak inklusif.

“Karena menurut saya apa yang akan dilakukan dalam kampanye akbar di GBK tersebut tidak lazim dan tidak mencerminkan kampanye nasional yang inklusif, melalui sejumlah unsur pimpinan Partai Demokrat saya meminta konfirmasi apakah berita yang saya dengar itu benar,” tutur SBY dalam suratnya.

Dan, jawaban dari orang sekitar Prabowo, informasi itu benar.

SBY pun meminta Amir Syamsudin, Syarief Hasan, dan Hinca Pandjaitan untuk mempringatkan Prabowo agar tetap mengusung kampanye yang inklusifitas, kebhinnekaan, kemajemukan, serta persatuan dan kesatuan “Indonesia untuk Semua”.

“Cegah Demonstrasi apalagi show of force identitas, baik yang berbasiskan agama, etnis serta kedaerahan, maupun yang bernuasa ideologi, paham dan polarisasi politik yang ekstrem,” tutur bos Ferdinan Hutahean dan Andi Arief tersebut.

Menurutnya, siapa pun presidennya nanti, akan menjadi pemimpin bagi seluruh rakyat Indonesia.

Maka dari itu, SBY mengingatkan, kampanye pun harus dikemas dengan mengusung prinsip “Semua untuk Semua”.

Dan, menurut penilaiannya, presiden yang mengusung prinsip “Semua untuk Semua” akan menjadi pemimpin yang kokoh, seperti dirinya yang berhasil memimpin Indonesia 2 periode.

Sebaliknya, pemimpin yang mengedepankan identitas atau suka menghadapkan identitas yang satu dengan yang lain, maka hampir dipastikan ia akan menjadi pemimpin yang rapuh.

“Bahkan sejak awal sebenarnya dia tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin bangsa. Saya sangat yakin, paling tidak berharap, tidak ada pemikiran seperti itu (sekecil apapun) pada diri Pak Jokowi dan Pak Prabowo,” ujarnya.

SBY mengaku tak suka rakyat Indonesia dibelah menjadi pro-Pancasila dan pro-kilafah.

Menurutnya, jika polarisasi seperti itu dibangun dalam kampanye, maka bangsa Indonesia berpotensi akan benar-benar terbelah menjadi 2 kubu, yang akan selalu berhadap-hadapan dan bermusuhan selamanya.

“Saya pikir masih banyak narasi kampanye yang cerdas dan mendidik,” ujar SBY

“Bangsa kita sangat majemuk. Kemajemukan itu disatu sisi berkah, tetapi disisi lain musibah. Jangan bermain api, terbakar nanti*,” lanjutnya.

Pernyataan SBY tersebut, sebenarnya cukup penting bagi Prabowo sebagai alarm untuk-nya kembali mengedepankan kebersamaan dalam berkampanye.

Tapi, mungkin karena Prabowo salah paham atau karena karekternya yang emosian itu. Ia justru menyerang balik SBY.

“Ada yang menuduh saya dan tim saya tidak inklusif, membangun pemerintahan selain Pancasila, kita membangun khilafah,” kata Prabowo saat menyampaikan pidato kebangsaan di Surabaya, (12/04).

Prabowo menegaskan, bahwa pada Pilpres 2019 ini, ia didukung oleh banyak tokoh agama lain, selain dari tokoh Islam.

Prabowo juga mengaku, ia banyak didukung oleh tokoh nasional.

“Beberapa hari terakhir saya menerima 300 pendeta dari agama Protestan. Tim saya juga banyak beragama Katolik, Hindu, Budha,” ujar Prabowo membalas kritikan SBY tersebut.

Selain itu, Prabowo juga menegaskan ia didukung oleh Ijtimak Ulama dan GNPF Ulama.

“Kita juga dapat dukungan dari kiai-kiai besar dan para habaib di seluruh Indonesia,” kata Prabowo.

Siapa sajakah habaib dan ulama pendukung capres No. urut 02 tersebut?

Ada Rizieq Shihab yang kini masih kabur di Arab Saudi.

Kemudian, ada Bachtiar Nasir yang pernah minum kencing Onta itu. Dan ada habib palsu, Novel Bamukmin, yang giginya menyilaukan itu.

Melihat perseteruan antara SBY dan Prabowo ini menunjukkan bahwa kapal yang bernama ‘Koalisi Indonesia Adil dan Makmur’ itu sudah mulai oleng.

Diterjang ombak yang besar.

Bukannya semakin mendekati Pilpres semakin kompak, tapi kedua tokoh rakrasa mereka justru saling cakar-cakaran seperti anak berebutan mainan.

Apakah ini follow up dari partai Demokrat yang tidak mendapatkan jatah kursi menteri sebanyak PKS dan PAN, beberapa waktu yang lalu?

Kita tunggu episode selanjutnya.

“Berebut kekuasan memang selalu menarik untuk diperhatikan. Apalagi itu terjadi di dalam satu gerbong

Sumber : Dobraknews

banner 468x60

Subscribe

No Responses

Leave a Reply